Parka diambil dari Bahasa suku Rusia, Nenets, yang secara harfiah adalah kulit binatang. Seusai namanya, parka awalnya terbuat dari kulit rusa dan oleh penduduk Kutub Utara saat berburu. Sejak tahun 1970, parka mulai naik pamor dan lazim digunakan pelajar Inggris untuk menghangatkan tubuh.

Namun, pada tahun 1980, jaket ini identik dengan simbol pelajar kutu buku dan karena itu mulai kurang diminati. Parka kembali menarik perhatian saat mulai dipopulerkan oleh para selebriti pada tahun 1990. Sejak itu, hingga tahun 2004, para pelajar Inggris mulai meninggalkan imej terdahulu dan mulai mengenakannya kembali sebagai tren.

Kini, kepopuleran parka semakin berkembang dan telah menarik hati pengguna mancanegara. Bahkan, pihak militer menggunakan parka sebagai bagian dari seragam mereka. Hal ini memberi nilai tambah sebagai fesyen tematik kemiliteran, jauh dari imej kutu buku seperti pada tahun 80-an.

Keragaman jenis parka dapat dibagi menjadi tiga kategori, snorkel, cagoule dan fishtail. Jenis parka snorkel awalnya dikembangkan sebagai outer fungsional angkatan udara untuk menahan cuaca dingin.  Parka jenis ini terbuat dari bahan nilon anti air, serat poliester, dan aksen bulu pada bagian tudung.

Sementara parka cagoule bisa dikatakan memiliki karakteristik yang sama dengan windbreaker keluaran Amerika. Secara fungsi parka ini dimanfaatkan seperti jas hujan karena sifat anti-airnya. Parka ini pun memiliki tudung kepala, saku di sisi perut dan tali elastik pada kerah.

Terakhir adalah parka fishtail yang digunakan pasukan infanteri dalam perang Amerika-Korea. Nama fishtail terinspirasi dari potongan bagian belakang jaket yang mirip dengan ekor ikan. Parka fishtail pun dihubungkan dengan budaya “Mod”, salah satu aliran jazz modern yang populer di Inggris pasca Perang Dunia II.

Terkait bahan, parka dapat dibagi menjadi dua jenis, parka tebal dan tipis. Parka tebal, atau dikenal pula dengan nama super parka, umumnya terbuat dari bahan dakron. Super parka berfungsi sebagai penghalau dingin. Sementara parka tipis terbuat dari bahan katun dan nilon. Karena relatif lebih tipis dibanding parka tebal, parka tipis lebih difungsikan untuk menahan hujan ringan dan dilapisi oleh sweater sebagai baju dalam agar lebih hangat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *